Apa Kriteria Diagnosis Diabetes Millitus

| December 21, 2012 | 0 Comments

Secara praktis untuk menegakkan diagnosis Diabetes Mellitus dibutuhkan pemeriksaan laboratorium penunjang yakni berupa pemeriksaan kadar gula darah dilakukan dalam beberapa keadaan yakni kadar gula darah sewaktu, pemeriksaan kadar gula darah puasa (sebelum dilakukan pemeriksaan diwajibkan puasa 8 jam) dan pemeriksaan kadar gula darah setelah pembebanan dengan 75 mg glukosa.

Kriteria diagnosis untuk abnormalitas Glukosa darah berdasarkan ADA (American Diabetes Association)

Diagnosis : Glukosa plasma (mg/dl)

  • Normal  :  Puasa (kurang lebih 8 jam) < 100, 2 jam setelah minum 75 mg glukosa < 140, tes random –
  • Glukosa darah puasa terganggu  :  Normal  100-125
  • Toleransi glukosa terganggu  : 2 jam stelah minum 75 mg glukosa 140-199
  • DM diabetes millitus  :  Normal >126, glukosa darah puasa terganggu >200, tes random >200 dengan gejala klasik DM.

Seseorang dikatakan jika kadar glukosa puasa dibawah 100 mg/dl atau kurang dari 140 mg/dl setelah pembebanan 75 mg glukosa. Diagnosis diabetes mellitus ditegakkan jika terdapat gejala klasik Dm dengan ditambahkan nilai glukosa  darah sewaktu > 200 mg/dl. Atau dengan pengukuran dengan kadar glukosa darah puasa melebihi 126 mg/dl. Atau nilai glukosa darah lebih dari 200 mg/dl setelah pembebanan dengan 75 mg glukosa. Jika salah satu dari ketiga kriteria diatas terpenuhi maka diagnosis DM bisa ditegakkan.

Sementara itu nilai diantara normal dan positif DM  disebut sebagai prediabetes. Prediabetes dibagi menjadi 2 (Lihat keterangan diagnosis diatas) : Glukosa darah puasa dan toleransi Glukosa terganggu.

Kedua kondisi prediabetes tersebut berhungan dengan resiko tinggi DM dikemudian hari. Selain itu seseorang dengan status prediabetes juga memiliki reseiko tinggi terhadap kejadian penyakit kardiovaskuler, sebab dengan semakin tingginya kadar gula darah maka akan berpengaruh negatif terhadap jaringan pembuluh darah.

Pemerikasaan lain yang biasa dilakukan pada DM!

Kondisi yang berhubungan dengan DM diantaranya adalah obesitas, dislipidemia dan hipertensi, ketiga tersebut juga mempengaruhi kinerja kardiovascular. Untuk itu selain pemeriksaan fisik yang sudah diterangkan diatas, pasien DM juga terkadang diperiksa kadar lipid dalam darahnya (triliserid, LDL dan HDL). Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui ada tidaknya dislipidemia. Dislipidemia ditandai dengan adanya peningkatan kadar trigliserid diatas nilai HDL (High density lipoprotein).

Sumber  :  Majalah ‘afiyah edisi 01 volume 1

Category: Edukasi

Leave a Reply

%d bloggers like this: