Minyak Sayur Kaya Omega 6 namun Minim Omega 3

| November 15, 2013 | 0 Comments

minyak sayuranKandungan zat kimia didalam  makanan dapat dipisahkan dalam beberapa jenis ada energi, protein, lemak, dll. Dari zat lemak yang terkandung dalam makanan itupun masih bisa dibedakan lagi menjadi beberapa macam diantaranya lemak jenuh, lemak tak jenuh tunggal, dan lemak tak jenuh ganda. Asam lemak tak jenuh ganda sering juga disebut sebagai asam lemak Omega 3 dan Omega 6  yang diyakini banyak memberikan manfaat bagi manusia. Omega 3  lebih banyak terkandung dalam ikan salmon, ikan tuna daan beberapa ikan laut lainnya, sedangkaan omega 6 banyak terkandung dalam makanan berupa kacang-kacangan atau biji-bijian separti jagung, biji bunga matahari, dll. Omega 3 diyakini dapat meningkatkan kecerdasan otak dan mengurangi resiko penyakit PJK dan Stroke, sedangkan Omega 6 diytakini dapat mengurangi  dan menurunkan kadar kolesterol dalam darah. Hal inilah yang membuat banyak orang berusaha untuk mengkonsumsi 2 jenis asam lemak ini dengan menggunakan minyak yang banyak mengandung 2 zat tersebut untuk mengolah makanan disetiap harinya. Namun ada penelitian terbaru yang menyebutkan bahwa minyak yang mengandung  Omega 3 dan Omega 6 belum tentu memiliki memiliki manfaat seperti yang banyak orang pahami. Mengapa demikian ? Untuk lebih jelasnya bisa dibaca penjelasannya di bawah ini.

KOMPAS.com – Lemak tak jenuh ganda atau yang dikenal dengan asam lemak omega-3 dan omega-6 diketahui memiliki manfaat penting bagi kesehatan. Kendati demikian, sebuah tinjauan terbaru dari beberapa studi menyatakan, lemak tak jenuh ganda tersebut belum tentu memiliki manfaat seperti yang selama ini diklaim banyak label makanan.

Menurut tinjauan yang dimuat Canadian Medical Association Journal, khususnya pada minyak sayur yang mengklaim memiliki kandungan omega-6 namun minim omega-3 justru memiliki dampak yang buruk bagi kesehatan. Ini karena ketidakseimbangan jenis lemak tak jenuh ganda yang ada di dalamnya.

Para peneliti menegaskan, minyak sayur tertentu seharusnya tidak dikategorikan sebagai makanan sehat. Pasalnya, produk tersebut hanya mengandung asam lemak omega-6 yang tinggi dan omega-3 yang rendah, sehingga tidak seimbang.

Secara umum, mengganti lemak jenuh dengan lemak tak jenuh ganda dapat mengurangi risiko kematian akibat penyakit jantung koroner (PJK). Namun menurut para peneliti, jika tidak seimbang, asam lemak tak jenuh ganda belum tentu dapat mengurangi risiko tersebut.

Mengenal asam lemak tak jenuh

Komponen dalam  makanan dapat dipecah menjadi beberapa elemen kimia. Lemak merupakan komponen yang dijumpai dalam banyak jenis makanan, khususnya pada daging dan kacang. Jenis lemak yang ditemui pun bisa berbeda-beda dalam setiap jenis makanan, antara lain lemak jenuh, tak jenuh tunggal, dan tak jenuh ganda. Digolongan demikian karena jenis-jenis lemak tersebut memiliki struktur kimia yang berbeda.

Faktanya, tanpa lemak tak jenuh ganda, otak tidak dapat berfungsi dengan semestinya. Namun karena tubuh tidak dapat memproduksi sendiri, maka kita perlu makan makanan tertentu yang mengandung zat gizi tersebut.

Khususnya asam lemak omega-3 dapat dijumpai pada ikan berlemak seperti salmon, mackerel, dan tuna. Zat gizi tersebut juga dapat ditemui pada walnut. Sementara itu, asam lemak omgea-6 banyak ditemukan dalam kacang-kacangan dan biji-bijian, seperti minyak sayur antara lain minyak jagung, minyak kedelai, dan minyak bunga matahari.

Asam lemak omega-3 dapat mengurangi risiko penyakit jantung dan stroke. Sedangkan omega-6 lebih dikenal untuk mengurangi kolesterol “jahat” atau low density lipoprotein (LDL).

Nah, karena kedua jenis asam lemak tak jenuh ganda tersebut sudah lama dikenal baik bagi kesehatan, maka analisa baru dari University of Toronto tersebut cukup banyak mengejutkan. Mereka bahkan menemukan, minyak sayur yang kaya asam lemak omega-6 namun tidak diimbagi dengan omega-3 justru dapat meningkatkan risiko penyakit jantung.

Analisa “ketidakseimbangan” tersebut didasari sebuah penelitian yang dipublikasi Februari lalu. Penelitian tersebut melibatkan sebuah kelompok peserta yang mengganti konsumsi lemak mereka menjadi minyak sayur. yang kaya asam lemak omega-6 namun minim omega-3.

Hasilnya, kadar kolesterol “jahat” di dalam tubuh mereka memang berkurang, tetapi ada peningkatan laju kematian karena penyakit kardiovaskular dan PJK. Karena itu, mereka menyimpulkan, konsumsi minyak sayur yang kaya asam omega-6 saja tidak cukup untuk mengurangi risiko kematian yang berkaitan dengan penyakit kardiovaskular, tetapi juga harus diimbangi dengan konsumsi asam lemak omega-3.

Sumber : Kompas.com

Category: Edukasi

Leave a Reply

%d bloggers like this: