6 mitos tentang rokok yang salah kaprah

| June 2, 2016 | 0 Comments

perokok pasifRokok adalah satu barang yang sangat banyak mengandung zat yang berbahaya. Dan tidak sedikit orang yang meninggal gara-gara benda yang satu ini. Namun telah banyak beredar di masyarakan dunia berbagai mitos agar rokok diperbolehkan. padahal semua itu tidaklah benar. NAh berikut 6 mitos tentang rokok yang beredar di masyarakat.

KOMPAS.com — Diperkirakan, 440.000 orang Amerika Serikat kehilangan nyawa akibat kanker paru-paru, penyakit jantung, emfisema, atau penyakit yang berhubungan dengan merokok. Rata-rata, perokok meninggal 14 tahun lebih cepat ketimbang mereka yang tidak merokok.

Berikut mitos keliru tentang rokok yang membuat banyak orang memutuskan untuk tetap merokok atau hilang semangat untuk menghentikan kebiasaan merokok.

1. Mitos: Kebiasaan sehat lainnya, seperti berolahraga dan makan makanan bergizi, dapat menebus efek buruk dari merokok.

Fakta: Banyak perokok yang membenarkan kebiasaan mereka dengan bersikeras menganggap bahwa nutrisi yang tepat dan banyak olahraga bisa membuat mereka tetap sehat. Sayangnya, kenyataan tidak berkata begitu.

“Penelitian menunjukkan bahwa mengonsumsi makanan yang sehat dan berolahraga tidak mengurangi risiko kesehatan yang berhubungan dengan merokok,” kata Ann M Malarcher, PhD, penasihat ilmiah senior kantor CDC Rokok dan Kesehatan.
“Merokok memengaruhi setiap sistem organ dalam tubuh sehingga berpikir kalau gaya hidup yang sempurna akan melawan efek dari merokok, sama sekali tidak realistis.”

Michael C Fiore, MD, profesor kedokteran dan Direktur Pusat Penelitian Tembakau dan Intervensi di University of Wisconsin di Madison, menambahkan, “Anda bisa saja mengambil satu truk penuh vitamin sehari, tetapi tetap saja cara itu tidak dapat menghilangkan efek mematikan dari tembakau.”

2. Mitos: Rokok jenis light akan mengurangi efek buruk rokok.

Fakta: Perokok yang beralih ke merek rokok yang berlabel “light” atau “mild” kerap mengharapkan tingkat tar dan nikotin yang lebih rendah.

Sayangnya, apa pun label pada rokok, entah itu rokok berlabel “alami” atau “organik” dinilai tidak lebih aman daripada rokok biasa. Sebab, Anda tidak perlu menambahkan atau mengurangi apa pun untuk membuat tembakau membunuh Anda.

“Orang-orang yang merokok dengan jenis light atau mild tetap berpotensi sekarat karena kanker paru-paru, stroke, serangan jantung, dan emfisema setiap harinya,” kata Fiore.

3. Mitos: Sekali merokok, kerusakan bagi tubuh sudah dilakukan, jadi untuk apa berhenti?

Fakta: Kerusakan yang disebabkan oleh merokok adalah kumulatif dan semakin lama seseorang merokok, semakin besar risiko untuk terkena penyakit yang mengancam jiwa. Karena itu, berhenti merokok pada usia berapa pun akan membawa manfaat kesehatan.

“Kesehatan Anda akan membaik, bahkan jika Anda berhenti pada usia 70,” kata Norman H Edelman, MD, Kepala Medis dari American Lung Association. Manfaat sehat dari berhenti merokok langsung Anda rasakan pada saat Anda memutuskan untuk berhenti.

“Dalam sebulan, Anda akan merasa pernapasan menjadi lebih lancar dan ringan. Dalam setahun, risiko Anda terkena serangan jantung akan menurun sebesar 50 persen,” lanjut Fiore.
Menurut American Cancer Society, perokok yang berhenti merokok sebelum berusia 35 tahun mampu mencegah 90 persen risiko kesehatan akibat merokok.

4. Mitos: Mengurangi jumlah rokok harian adalah cara yang sangat baik.

Fakta: “Mengurangi jumlah rokok bukan merupakan strategi yang efektif,” kata Malarcher. Fiore menambahkan, “Perokok yang merokok lebih dari satu batang rokok sehari, meskipun mereka merokok lebih sedikit dari biasanya, tetap saja mendapat dosis mematikan dari asap beracun. Data menunjukkan bahwa satu-satunya strategi berhenti merokok yang efektif ialah berhenti secara total,” kata Fiore.

5. Mitos: Saya akan menanggung sendiri risikonya.

Fakta: Asap tembakau juga merugikan orang-orang di sekitar. Di AS, asap rokok menyebabkan sekitar 50.000 kematian per tahun. Demikian American Lung Association memperkirakan.

“Kematian tak hanya dialami perokok. Pelayan yang bekerja di sebuah bar dan terpapar asap beracun sebagai perokok pasif menjadi korban terbanyak,” kata Fiore.

Tak hanya mereka, saat seseorang merokok di depan anak-anak atau keluarga, si perokok juga membahayakan kesehatan orang terdekat. Jadi, tak hanya perokok yang menanggung akibat, orang di sekitar yang terpapar asap pun juga merasakan akibat dari kebiasaan para perokok.

6. Mitos: Saya mencoba berhenti sekali, tetapi gagal sehingga tidak ada gunanya mencoba lagi.

Fakta: Kebanyakan perokok mencoba beberapa kali usaha sebelum akhirnya mampu berhenti untuk selamanya. Jadi, jika Anda pernah gagal sebelumnya, jangan biarkan kejadian itu menghalangi Anda untuk mencoba lagi.

Edelman mengatakan, “Walau sering gagal, Anda tetap harus berusaha untuk berhenti sebab berhenti merokok adalah proses menuju hidup yang lebih sehat. Banyak perokok yang sukses berhenti merokok selamanya.”

Category: Lifestyle

Leave a Reply

You might also likeclose
%d bloggers like this: